Masuk

Ingat Saya

Stop Terorisme Berkedok Apapun

  • Pengertian Jihad dan Terorisme

         Jihad (bahasa Arab: جهاد) menurut syariat Islam adalah berjuang dengan sungguh-sungguh.. Jihad dilaksanakan untuk menjalankan misi utama manusia yaitu menegakkan Din (atau bisa diartikan sebagai agama) Allah atau menjaga Di tetap tegak, dengan cara-cara sesuai dengan garis perjuangan para Rasul dan Al-Quran. Jihad yang dilaksanakan Rasul adalah berdakwah agar manusia meninggalkankemusyrikan dan kembali kepada aturan Allah, menyucikan qalbu, memberikan pengajaran kepada ummat dan mendidik manusia agar sesuai dengan tujuan penciptaan mereka yaitu menjadi khalifah Allah di bumi dengan damai dan saling mengasihi. Namun dalam berjihad, Islam melarang pemaksaan dan kekerasan.  Terorisme adalah tindakan kejahatan terhadap kemanusiaan dan peradaban yang menimbulkan ancaman serius terhadap kedaulatan negara, bahaya terhadap keamanan, perdamaian dunia serta merugikan kesejahteraan masyarakat. Terorisme merupakan salah satu bentuk kejahatan yang diorganisir dengan baik (well organized), bersifat transnasional dan digolongkan sebagai kejahatan luar biasa (extra ordinary crime) yang tidak membeda-bedakan sasaran (indiskriminatif).

Dalam berbagai pemberitaan, banyak disebut aksi terorisme yang terjadi di Indonesia didasari oleh semangat jihad dalam rangka menegakkan syariat Islam. Hal tersebut kemudian berisiko membentuk opini negatif di masyarakat mengenai makna jihad yang sesungguhnya. Lebih dari itu, aksi terorisme tersebut juga berpotensi mendiskreditkan posisi Islam, baik di mata nasional maupun internasional. Apa yang sebenarnya terjadi dengan semua hal tersebut? Deputi Bidang Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Mayjen Agus Surya Bhakti, pernah mengatakan bahwa terjadi penyimpangan makna jihad yang disamakan dengan terorisme. Menurutnya, hal tersebut terjadi karena adanya kedangkalan dan keterbatasan pemahaman para pelaku aksi terorisme mengenai makna jihad yang dimuliakan oleh Islam. Memang benar jihad itu baik, Majelis Ulama Indonesia (MUI) saja menegaskan dalam Fatwa Nomor 3 Tahun 2004 bahwa jihad itu wajib dalam kondisi perang agama yang mengancam keberlangsungan sebuah negara dan masyarakatnya. Sayangnya, fatwa tersebut dimaknai hanya sebagai perang suci, namun tidak dilihat dari kondisi negara dan masyarakat Indonesia saat ini, di mana tengah berada di dalam kondisi tenang, tidak dalam kondisi perang. Kesalah pahaman tersebut menjadikan jihad dimaknai dalam bentuk kemasan agama. Para pelaku teroris tidak memperhatikan dengan baik unsur sosial di dalamnya, sehingga menimbulkan anggapan bahwa mereka dan agama merekalah yang benar. Inilah yang kemudian menciptakan impian untuk membentuk negara Islam yang hakiki menurut intepretasi mereka (pelaku teroris). Isu terorisme yang dilakukan oleh kelompok Islam radikal telah muncul sejak lama di Indonesia, yakni sejak zaman DI/TII di dekade 50-an. Menuut catatan BNPT, setelah penumpasan besar-besaran DI/TII oleh militer negeri ini, sebenarnya masih tersisa kelompok-kelompok kecil yang melanjutkan gerakan tersebut. Namun karena tekanan yang cukup keras di masa Orde Baru, banyak dari anggota kelompok-kelompok kecil pecahan DI/TII tersebut lari ke Malaysia.  Di negeri jiran ternyata mereka dapat bebas beraktivitas serta berkesempatan memperluas jejaring dengan pihak-pihak yang sepaham, baik di Malaysia maupun di luar negeri. Dari perluasan jejaring itulah kemudian mempertemukan mereka dengan kesempatan untuk membantu perjuangan umat Muslim dalam konflik di Afghanistan. Di sana mereka ternyata bersentuhan dengan beberapa kelompok teroris internasional, di mana salah satunya adalah Jamaah Islamiyah (JI). Persentuhan tersebut mengakibatkan mereka yang berjuluk mujahid ini mengalami pencucian otak mengenai ideologi Islam garis keras. Konon para mujahid tersebut mulai berani kembali ke tanah air sejak era reformasi. Karena tekanan yang mulai melemah terkait eksistensi mujahid di Indonesia, membuat celah terjadinya aksi terorisme kain meningkat. Dari sinilah kemudian mulai terjadi aksi terorisme nyata dalam bentuk pengeboman, seperti Bom Bali I di tahun 2002, Bom Bali II, Bom Kuningan, dan lain-lain. Aksi pengeboman tersebut awalnya memang merupakan hasil persentuhan para mujahid dengan kelompom Jamaah Islamiyah. Namun setelah penangkapan berbagai tokoh kunci aksi terorisme tersebut, kini kegiatan teror terpecah-pecah menjadi kelompok lebih kecil. Para kelompok kecil ini masih tetap menjadi bagian dari kelompok besar sebelumnya, namun karena kosongnya posisi pemimpin, maka aksi mereka pun melemah. Meskipun begitu, kita harus tetap waspada terhadap aksi terorisme karena hal tersebut masih berpotensi kuat terjadi Indonesia. Diperlukan aksi pencegahan yang bersifat semesta, yakni berupa pengerahan semua kemampuan negara dan masyarakat dalam mederadikalisasi aksi terorisme di Indonesia. Hal ini dilakukan karena penanggulangan terorisme tidak dapat dilimpahkan ke negara arah lembaga tertentu saja, melainkan dalam bentuk kerja sama dengan seluruh komponen negara dan masyarakat Indonesia. Mengingat penyebaran aksi terorisme yang semakin meluas di tanah air, bahkan hingga ke elemen-elemen terkecil di masyarakat, diperlukan adanya kesadaran hidup dalam kedamaian. Sikap apatis dalam bermasyarakat dapat mendorong munculnya kekerasan dari oknum-oknum tertentu yang mengalami pemahaman dangkal akan makna kehidupan sosial yang damai. Jangan sampai kondisi apatis di dalam masyarakat kian meningkat, karena sikap apatis terbukti telah banyak menjadi salah satu faktor penyebab tumbuhnya aksi terorisme.

  • Perbedaan Jihad dan Terorisme

Perbedaan Jihad dan Terorisme Menurut Pandangan Islam Sebagai seorang muslim/muslimah, sudah selayaknya kita mengetahui apa perbedaan Jihad dan Terorisme dari sudut pandangan agama Islam, sebab saat ini makna Jihad seringkali digunakan dalam aksi-aksi terorisme, baik di Indonesia bahkan di seluruh dunia. Di tengah gemerlapnya kehidupan duniawi begitu banyak godaan dan tipuan yang dapat melepaskan seorang muslim dariagamanya secara sadar atau tidak. Mengapa, sebab pada dasarnya agama sendiri berarti kepatuhan dan ibadah mengandung arti penghambaan kepada Allah SWT. Kecintaan manusia kepada materi mengalahkan cintanya kepada Allah SWT. Sesungguhnya setiap agama akan menguasai setiap penghambaannya. Disinilah pentingnya jihad bukan hanya menyadarkan kembali hakikat penghambaan namun juga menjadi tiang tegaknya peradaban manusia sesuai kaidah-kaidah yang di Ridhoi oleh Allah SWT. Dengan jihad akan ada semangat perubahan menuju perbaikkan. Namun, banyak persepsi-persepsi orang yang keliru bahwa terorisme itu adalah bagian dari jihad. Padahal jihad dan terorisme itu mempunyai makna yang berbeda. Terorisme timbul sebab permasalahan kekuasaan yang bersifat duniawi, sedangkan jihad lebih mengarah pada misi suci yaitu demi menegakkan agama islam dalam jalan Allah SWT. Untuk lebih jelasnya mari kita simak pengertian Jihad dan Terorisme berikut ini Pengertian Jihad Secara etimologi kata jihad berasal dari bahasa Arab, kata jihad diambil dari kata dasar “جـهـد” .Secara bahasa kata “al-jihaad” berasal dari kata “jaahada”, yang berarti “al-juhd” (kesulitan) atau “al-jahd” (tenaga atau kemampuan).  Jihad secara bahasa berarti mengerahkan dan mencurahkan segala kemampuannya baik berupa perkataan atau perbuatan. Dan secara istilah syari’ah berarti seorang muslim mengerahkan dan mencurahkan segala kemampuannya untuk memperjuangkan dan menegakkan Islam demi mencapai ridha Allah SWT. Oleh sebab itu kata-kata jihad selalu diiringi dengan fi sabilillah untuk menunjukkan bahwa jihad yang dilakukan umat Islam wajib sesuai dengan ajaran Islam agar memperoleh keridhaan Allah SWT.Imam Syahid Hasan Al-Banna berkata, “Yang saya maksud dengan jihad adalah suatu kewajiban sampai hari kiamat dan apa yang dikandung dari sabda Rasulullah saw,” Siapa yang mati, sedangkan dia tidak berjuang atau belum berniat berjuang, maka dia mati dalam keadaan jahiliyah”. Adapun urutan yang paling bawah dari jihad adalah ingkar hati, dan yang paling tinggi perang mengangkat senjata di jalan Allah. Di antara itu ada jihad lisan, pena, tangan dan berkata benar di hadapan penguasa tiran.Dan jihad ini diwajibkan kepada laki-laki yang baligh, berakal, sehat badannya dan mampu melakukan jihad. Dan dia tidak diwajibkan atas:anak-anak, hamba sahaya, perempuan, orang pincang, orang lumpuh, orang buta, orang kudung, dan orang sakit. Dakwah tak akan hidup kecuali dengan jihad, seberapa tinggi kedudukan dakwah dan cakupannya yang luas, maka jihad adalah jalan satu-satunya yang mengiringinya. Firman Allah,” Berjihadlah di jalan Allah dengan sebenar-benarnya jihad” (QS Al-Hajj 78).Dengan demikian anda sebagai aktifis dakwah tahu akan hakikat doktrin ‘ Jihad adalah Jalan Kami’. Dari uraian di atas dari kata juhd, jihad berarti kemampuan.Karena jihad menuntut kemampuan dan wajib dilakukan sebesar kemampuan seseorang. Dari kata juhd tersusun ungkapan jahida bi al-rajul, yang maknanya ‘seseorang sedang menjalani atau mengalami ujian. ”Jadi, kata jihad di sini mengandung makna ujian dan cobaan, sebab jihad adalah ujian dan cobaan pada kualitas seseorang.Jihad berarti kemampuan yang menuntut seorang mujahid mengeluarkan segala daya dan kemampuannya demi mencapai tujuan.Karena itu jihad adalah pengorbanan, sebab itu seorang mujahid tidak menuntut atau mengambil, tetapi memberi semua yang dimilikinya.Ketika memberi, ia tidak berhenti sebelum tujuannya tercapai atau yang dimilikinya habis. Tegasnya, kualitas seseorang sangat ditentukan kualitas ujian yang berhasil ia jalani dan cobaan yang sukses dilewatinya.Semakin berat ujian dan cobaan yang mampu ia lewati akansemakin tinggi kualitasnya.Kesuksesannya dalam menjalani ujian dan cobaan itu sangat ditentukan pula oleh kemampuan yang dimilikinya, baik kemampuan fisik, intelektual, atau rohani. Mustahil seseorang berhasil melewati ujian dan cobaan tanpa dibekali kemampuan itu. Para nabi dan rasul Allah mampu melakukan misi kenabian dan kerasulan yang diembannya sebab sebelumnya mereka sudah berhasil melewati ujian dan cobaan sejak kecil. Karena ujian dan cobaan yang akan mereka hadapi saat menjadi nabi dan rasul sangat berat pula. Sebagai penghargaan atas kesuksesan mereka melakukan tugas kenabian dan kerasulan yang berat itu, Allah mengangkat derajat mereka menjadi manusia mulia dan ditempatkan di surga yang mulia pula. Jadi, secara etimologi, jihad berarti kesungguhan dalam mencurahkan segala kemampuan, baik kemampuan fisik, intelektual, dan rohani untuk mencapai suatu tujuan yang memerlukan kesungguhan, dan keseriusan, serta kesabaran dan ketabahan.Jihad berada dalam semua aktivitas amal kebaikan, amal ibadah minimal jihad melawan hawa nafsu yang mendorong manusia kepada kemungkaran. Pengertian Terorisme Kata “teroris” (pelaku) dan terorisme (aksi) berasal dari kata latin terrereyang kurang lebih berarti membuat gemetar atau menggetarkan. Kata Teror juga mengandung arti kengerian.Tentu saja, kengerian dihati dan pikiran korbannya.Akan tetapi, hingga kini tidak ada definisi terorisme yang bisa diterima secara universal.Pada dasarnya istilah “terorisme” adalah sebuah konsep yang mempunyai konotasi yang sangat sensitif sebab terorisme menyebabkan terjadinya pembunuhan dan penyengsaraan pada orang-orang yang tidak berdosa.Tidak ada negara yang ingin dituduh mendukung terorisme atau menjadi tempat perlindungan untuk kelompok-kelompok terorisme.tidak ada pula negara yang dianggap melaksanakan tindak terorisme sebab menggunakan kekuatan (militer). Ada yang mengatakan, seseorang bisa disebut sebagai pelaku teroris sekaligus juga sebagai pejuang kebebasan.Hal itu bergantung dari sisi mana memandangnya. Itulah sebabnya, hingga saat ini tidak ada definisi terorisme menurut kepentingan dan keyakinan mereka sendiri untuk mendukung kepentingan nasionalnya (kompas).dapat disimpulkan bahwa terorisme adalah mengacu pada problem sosial-politik, yang mana kekacauan yang ditimbulkan oleh teroris disebabkan terjadinya adanya gap antara pemerintahan dengan penguasa oposisi yang tidak setuju dengan kebijakan yang ada, dan lalu mereka para oposisi mengambil tindakan tidak sehat. walaupun tidak semua kekacauan yang ditimbulkan teroris adalah mengacu pada problem politik, namun sebagaian besar adalah politik penyebabnya. Wacana mengenai terorisme sudah muncul sejak ribuan tahun silam dan menjadi legenda dunia, namun sampai kini belum ada satu kesepakatan tentang makna terorisme, sebab adanya perbedaan persepsi, visi dan kepentingan dalam memandang masalah terorisme ini.Bahkan PBB pun tidak berhasil merumuskan satu definisi yang bisa diterima oleh semua anggota PBB. Akibat makna-makna negatif yang dikandung oleh perkataan “teroris” dan “terorisme”, para teroris biasanya menyebut diri mereka sebagai separatis, pejuang pembebasan, pasukan perang salib, militan, mujahidin, dan lain-lain. Tetapi dalam pembenaran dimata terrorisme : “Makna sebenarnya dari jihad, mujahidin adalah jauh dari tindakan terorisme yang menyerang penduduk sipil padahal tidak terlibat dalam perang”. Padahal Terorisme sendiri sering tampak dengan mengatasnamakan agama.

 

 

 

SUMBER

 

http://kisahimuslim.blogspot.co.id/2016/01/perbedaan-jihad-dan-terorisme-menurut.html

https://id.wikipedia.org/wiki/Jihad

http://www.suara-islam.com/read/index/13886/-Terorisme-bukan-Jihad–Jihad-bukan-Terorisme

http://www.kompasiana.com/vidiahamenda/menelusuri-sejarah-singkat-terorisme-di-bumi-indonesia_554856a3547b618a16252506

 

 

hendra
Dengan